Kejadian tragis di Studion Kanjuruhan tidak seharusnya terjadi bila sesama penggemar sepak bola maupun antara penggemar sepak bola dan aparat kepolisian bisa saling menghargai.Benih duka hadir mewarnai dunia sepak bola tanah air, dan justru menjadi laga mematikan bagi para penonton yang hadir di Studion Kanjuruhan.
Tercatat telah memakan korban hingga ratusan jiwa, penonton tidak hanya dan kalangan anak muda, bahkan lelaki, wanita, dewasa dan anak-anak juga yang tewas pada saat kejadian.
Dimulai dengan tidak terimanya supporter Arema FC atas kekalahan mereka dengan Persebaya dengan skor 2-3.
Dalam pertandingan sepak bola, supporter protes atau tidak terima dengan kekalahan memang bukan hal yang aneh, dan bahkan supporter bisa langsung maju menuju lapangan sebagai bentuk protes.Tapi tidak seharusnya polisi langsung menembaku supporter bahkan hingga ke arena tribun yang notabene masih sesak dengan penonton dewasa, lelaku, perempuan dewasa dan anak-anak dengan gas air mata.
Aturan penggunaan gas air mata oleh Kepolisian diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara RI No.1 Tahun 2009.Sedangkan di dalam pasal menurut FIFA,yaitu pasal 19 ayat b menyatakan tidak boleh ada senjata api dan gas air mata untuk mengendalikan masa di dalam studion.
(https:www.bola.net)

Semoga ini menjadi kejadian terakhir di Indonesia bahkan di Dunia Sepak Bola International.

#PRAYFORKANJURUHAN

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *